Hendaknya kalian memakai pakaian dari wol, niscaya kalian akan merasakan manisnya iman dalam hati kalian. Hendaknya kalian memakai pakaian dari wol, niscaya akan berkurang makan kalian. Hendaknya kalian memakai pakaian dari wol, karena dengannya akan dikenal kelak di hari kiamat. Sesungguhnya pakaian dari wol itu membuahkan hati bertafakur, sedangkan tafakur membuahkan hikmah, dan hikmah akan berjalan di dalam tubuh bersamaan dengan peredaran darah. Barangsiapa banyak bertafakur; akan sedikit makannya, tidak jelas kata-katanya dan menjadi lembut hatinya. Dan barangsiapa sedikit berpikirnya, akan banyak makannya, besar badannya, mengeras hatinya, sedangkan hati yang keras jauh dari surga dan dekat kepada neraka.

90) Derajat Hadits : Maudhu'

Barang siapa mengenal dirinya, berarti ia telah mengenal Tuhan- nya.

66) Derajat Hadits : Maudhu'

Pemilik sesuatu barang lebih berhak membawanya, kecuali jika ia lemah atau tidak mampu membawa sendiri. Ketika itu, hendaknya saudaranya sesama muslim membantunya.

89) Derajat Hadits : Maudhu'

Tanaman adalah bagi si penanam, sekalipun ia memperoleh dengan cara merampas.

88) Derajat Hadits : Maudhu'

Bila khatib telah menaiki mimbar pada shalat Jum'at, maka tidak diperkenankan shalat ataupun berbicara.

87) Derajat Hadits : Dha'if

Wabah sampar itu tikaman saudara-saudara kalian dari kalangan jin.

Hadits dengan lafazh dan matan seperti ini tidak ada sumbernya. Telah diriwayatkan oleh Ibnul Atsir dalam kitabnya an-Nihayah dalam bab wakhaza, yang mengikuti al-Harawi.

Ibnu Hajar berkata, "Saya tidak menjumpai hadits dengan lafazh yang demikian walaupun saya telah menyelidikinya sedetail mungkin, baik dari segi sanad maupun matannya, baik dalam kitab-kitab masyhur maupun kitab lainnya."

Menurut saya, hadits yang senada terdapat dalam kitab Musnad Imam Ahmad IV/hadits ke-395, 413, dan 417. Juga dalam kitab al-Mu'jam ash-Shaghir halaman 71 dan al-Hakim 1/50, dengan sanad dari Abu Musa al-Asy'ari secara marfu dengan matan: Ath-Tha'un wakhzu a'daaikum minal jinni. Artinya: "Wabah sampar itu tikaman musuh-musuhmu dari kalangan jin". Ini adalah hadits sahih.

86) Derajat Hadits : Maudhu'

Ada tiga orang yang akan dibunuh dalam kejayaan kalian, dan semuanya anak khalifah, tetapi tidak seorang pun yang terkena. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur membunuh kalian dengan pembunuhan yang belum pernah dilakukan oleh suatu kaum. Kemudian mereka menyebutkan sesuatu yang aku tidak menghafalnya. Kemudian beliau bersabda, 'Bila kalian melihatnya, baiatlah ia sekalipun kalian harus merangkak di atas salju karena sesungguhnya ia itu khalifah Tuhan, al-Mahdi.' Kemudian dalam riwayat lain, 'Bila kalian melihat bendera-bendera hitam dari arah Khurasan, datangilah biarpun dengan merangkak,' ... dan seterusnya.

85) Derajat Hadits : Maudhu'

Kalian semuanya lebih utama darinya.

84) Derajat Hadits : Dha'if

Sebaik-baik pengingat (untuk berzikir) adalah tasbih.

83) Derajat Hadits : Maudhu'

Maukah aku beri kabar gembira wahai Abul Fazl (al-Abbas)? Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah membuka bagiku perkara ini dan Ia akan mengakhirinya dari keturunanmu.

Ini hadits maudhu' dan telah diriwayatkan oleh Abu Naim dalam kitab al-Haliyyah I/35 dari sanad Lahij bin Ja'far at-Taimi, dari Abdul Azis bin Abdus Samad al-Ami, dari Ali bin Zaid bin Jad'an, dari Said bin Musayyab, dari Abu Hurairah r.a.

Menurut saya, Lahij bin Ja'far tercela. Ibnu Adi berkata bahwa ia adalah perawi dari Baghdad yang majhul yang telah meriwayatkan dari perawi tsiqah (kuat; dapat dipercaya) dengan mencampur-aduk dengan riwayat-riwayat munkar. Bahkan adz-Dzahabi berkata, "Demi Allah, riwayat ini merupakan hadits-hadits maudhu' yang sangat besar dustanya. Dan semoga Allah mengutuk siapa saja yang tidak menyukai Ali."

Satu hal yang perlu diperhatikan oleh para penuntut ilmu, jika telah mengetahui kelemahan dan kepalsuan hadits-hadits ini dan yang sebelumnya, tidak perlu bersusah payah menentukan hadits sahih yang baru saya sebutkan tadi bahwah al-Mahdi adalah anak keturunan Fatimah. Wallahu Waliyyut Taufiq.

82) Derajat Hadits : Maudhu'

Wahai Abbas, sesungguhnya Allah telah membuka perkara ini dengan keberadaanku, kelak akan disudahi oleh seorang anak laki-laki dari keturunanmu, yang bakal menyebar keadilan sebagaimana tersebarnya kezaliman. Dialah yang akan menjadi imam kala shalat bersama Nabi Isa a.s.

Hadits ini maudhu' dan telah diriwayatkan oleh al-Khatib dalam kitab Tarikh Baghdad IV/177, dengan sanad dari Ahmad bin al-Hajaj bin Shalt, dari Said bin Sulaiman dari Khalaf bin Khalifah dari Mughirah dari Ibrahim dari al-Qamah dari Amar bin Yasir r.a.

Menurut saya, semua sanadnya masyhur dan tsiqah dari deretan perawi-perawi yang digunakan Imam Muslim, kecuali Ahmad bin al-Hajjaj. Ia telah tercela, seperti yang dinyatakan oleh adz-Dzahabi. Kemudian hadits tersebut telah dirangkum oleh Ibnul Jauzi dalam keterangan hadits-hadits maudhu'. Adapun bahwa Imam Mahdi shalat dan menjadi imam bagi Nabi Isa ketika turun kelak adalah benar adanya seperti yang tertera dalam banyak hadits sahih, dalam Kutubus Sunan.

81) Derajat Hadits : Maudhu'

Al-Mahdi adalah anak dari keturunan al-Abbas pamanku.

80) Derajat Hadits : Maudhu'

Adalah termasuk sikap tawadhu' seseorang yang mau minum dengan gelas bekas saudaranya. Barangsiapa yang meminum bekas saudaranya hanya semata mengharap keridhaan-Nya, maka Allah akan mengangkat baginya tujuh puluh derajat, menghapus tujuh puluh kesalahannya dan mencatat baginya tujuh puluh derajat kebaikan.

79) Derajat Hadits : Maudhu'

Bekas minuman orang mukmin adalah obat.

78) Derajat Hadits : Maudhu'

Tidak ada al-Mahdi kecuali Isa a.s.

77) ) Derajat Hadits : Dha'if-Maudhu'

Semua orang ibarat mayat, kecuali orang-orang alim. Dan orang-orang alim semuanya binasa, kecuali orang-orang yang mengamalkan. Dan orang-orang yang mengamalkan semuanya tenggelam, kecuali orang-orang yang mukhlish. Dan orang-orang yang mukhlis semuanya dalam bahaya yang sangat besar.

76) Derajat Hadits : Maudhu'

Segerakanlah shalat sebelum terlambat dan segerakanlah tobat sebelum wafat.

Ini hadits maudhu'. Ash-Saghani meriwayatkannya dalam deretan hadits-hadits maudhu', halaman 4-5.

75) Derajat Hadits : Maudhu'

Besarkanlah kurban kalian, karena sesungguhnya itu merupakan tunggangan knlian pada shitathal mustaqim.

74) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa mengusap kedua mata dengan ujung bagian dalam kedua telunjuk ketika muazin mengucapkan "asyhadu anna Muhammadan Rasulullah..." dan seterusnya, ia berhak mendapatkan syafaat Rasulullah saw.

73) Derajat Hadits : Maudhu'

Rabbi telah mendidikku dan membaikkan adabku.

72) Derajat Hadits : Dha'if

Takbir (Allahu Akbar) itu diperpanjang.

Ibnu Hajar dan as-Sakhawi menyatakan bahwa riwayat ini tidak ada sumbernya. As-Suyuthi juga berpendapat demikian seraya berkata bahwa itu adalah ucapan Ibrahim an-Nakha'i.

Di samping itu, hadits tersebut tidak mempunyai sumber marfu'. Dilihat dari segi maknanya pun, yang dimaksud adalah takbir dalam shalat, seperti yang dapat dipahami dari keterangan as-Sayuthi yang pernah ia ungkapkan dalam kitab khusus yang berkenaan dengan hadits maudhu' ini, yang diberinya judul al-Hawi lii Fatawa II/71. Jadi, bukanlah termasuk takbir dalam azan seperti yang dipahami oleh sekelompok firqah.

71) Derajat Hadits : Maudhu'

Siapa saja yang memberi makan saudaranya dengan roti hingga kenyang dan memberinya minum hingga cukup, Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh tujuh khandaq. Jarak antara dua khandaq adalah perjalanan lima ratus tahun.

70) Derajat Hadits : Maudhu'

Mengusap leher waktu berwudhu dapat menyelamatkan dari belenggu pada hari kiamat kelak.

Ini hadits maudhu'. Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab I/465, berkata, "Ini adalah hadits maudhu' dan bukan dari sabda Rasulullah saw.

Ibnu Hajar dalam kitab Talkhish al-Habir I/433, berkata, "Abu Muhammad al-Juwaini menyatakan bahwa para pakar hadits tidak meridhai dan tidak menerima sanadnya."

Menurut saya, semua hadits tentang keharusan membasuh leher saat berwudhu adalah munkar. Di samping lemahnya sanad dan kemajhulan perawinya, juga sangat jelas hal itu bertentangan dengan hadits-hadits sahih yang mengisahkan tentang bagaimana Rasulullah saw. berwudhu, yang tidak satu pun di antaranya menyebutkan bahwa beliau mengusap lehernya tatkala berwudhu.

69) Derajat Hadits : Maudhu'

Hendaknya surat Innaa anzalnaahu dibaca setiap usai berwudhu.

68) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa pada shalat fajar membaca surat Alam Nasyrah dan Alam Tara Kaifa, maka ia tidak akan terkena penyakit opthalmia (radang mata).

67) Derajat Hadits : Maudhu'

Domba berumur satu tahun boleh dijadikan kurban.

Hadits ini dha'if. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah II/275, Baihaqi dan Imam Ahmad dari sanad Muhammad bin Abu Yahya, dari ibunya, dari Ummu Bilal binti Hilal, dari ayahnya.

Sanad tersebut sangat lemah karena Ummu Muhammad dan Ummu Bilal adalah majhul (asing) Demikian yang dinyatakan oleh Ibnu Hazem dalam al-Muhalla VII/365.

Pernyataan Ibnu Hazem tersebut ditanggapi oleh ad-Dumairi dengan menyatakan, "Ibnu Hazem benar dalam mendha'ifkan Ummu Muhammad. Namun dalam menilai dha'if terhadap Ummu Bilal ia salah, sebab Ummu Bilal dikenal di kalangan sahabat seperti disebutkan oleh Ibnu Mundih dan Abu Naim serta Ibnu Abdil Bar."

Menurut saya, yang benar adalah Ibnu Hazem, sebab Ummu Bilal tidak dikenal kecuali dalam riwayat ini. Di samping itu, tidak ada kejelasan bahwa dia telah bergaul dengan sahabat. Jadi dalam sanadnya ada kemajhulan.

Ringkasnya, hadits riwayat di atas tidak sahih. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Nasa'i dan Hakim serta Imam Ahmad dari sanad Ashim, dari ayahnya, dari sanad Jabir bin Abdilah r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, adalah sahih. Karena itu, hendaknya kita mengamalkan hadits yang lebih sahih dalam bab ini.

65) Derajat Hadits : Dha'if

Sebagus-bagus binatang kurban adalah domba yang muda.

64) Derajat Hadits : Dha'if

Sesungguhnya hujan es bukanlah makanan dan bukan pula minum.

Hadits ini munkar. Telah diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam kitab Musykilul Atsar II/347, oleh Abu Ya'la dalam musnadnya II/ 191, oleh Ibnu Asakir II/313, serta oleh as-Salafi dalam kitab ath-Thuyuriyyat dari sanad All bin Zaid bin Jid'an dari Anas.

Riwayat tersebut sanadnya lemah karena Ali bin Zaid bin Zid'an memang lemah. Demikian pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab at-Taqrib. Syu'bah bin al-Hajjaj berkata, "Ali bin Zaid memberitahukan kepada kami dan ia itu melakukan kesalahan, sambil menyambungkan sanad hadits ini yang hakikatnya adalah sanad yang mauquf (terhenti sampai sahabat)." Inilah kelemahan riwayat ini yakni karena perawi kuat meriwayatkannya hanya sampai pada Anas bin Malik r.a. saja yaitu dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya II1/279, dan juga Ibnu Asakir 11/3 13.

Adapun sanad mauquf yang diriwayatkan oleh perawi kuat, adalah dari Syu'bah, dari Qatadah dan Humaid, dari Anas bin Malik r a , ia berkata : "Suatu ketika pada bulan puasa turunlah hujan salju. Kemudian Abu Talhah yang sedang berpuasa mengambil butiran salju tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Kami katakan padanya, 'Engkau memakan salju padahal engkau tengah berpuasa.' Maka ia pun menjawab: 'Sesungguhnya ini adalah berkah.'"

Sanad riwayat ini adalah sahih menurut kriteria persyaratan sahihan, dan oleh Ibnu Hazem ditetapkan kesahihannya.

Hadits ini mauquf dan tidak ada sebutan nama Nabi saw. Menurut Alhafizh, sanadnya lemah. As-Suyuthi mencantumkannya dalam buntut hadits-hadits maudhu dan berkata kalau hadits ini benar, maka orang yang makan butiran salju tidak batal puasanya. Hal ini tidak bisa dibenarkan oleh kaum muslimin masa kini. Said Ibnul Musayyab tidak menyukai hadits ini.

63) Derajat Hadits : Maudhu'

Ahli Baitku adalah bagaikan bintang-bintang. Dari yang mana saja kalian minta bimbingan, kalian akan mendapat petunjuk.

Hadits ini maudhu', bahkan dalam lembaran Ahmad bin Nabith dinyatakan dusta. Saya telah mendapatkan bahwa hadits tersebut berasal dari Abu Naim al-Ashbahan, dari Abu Hasan Ahmad bin al-Qasim, dari Ahmad bin Ishaq bin Ibrahim. Adz-Dzahabi menyatakan bahwa riwayat Ahmad bin Ishaq tidak dapat dijadikan hujjah karena ia pendusta. Pernyataan ini dikuatkan oleh al-Hafizh dalam kitab al-Lisan. Di samping itu, Ahmad bin al-Qasim itu lemah.

62) Derajat Hadits : Maudhu'

Sesungguhnya para sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang. Dari yang mana saja kalian mengambil pendapatnya, berarti telah mendapat petunjuk.

61) Derajat Hadits : Maudhu'

Aku tanyakan kepada Tuhanku tentang perselisihan para sahabatku sepeninggalku, maka Ia mewahyukan padaku, 'Wahai Muhammad, sesungguhnya kedudukan para sahabatmu di sisiku bagaikan bintang-bintang di langit, sebagian lebih terang sinarnya dari yang lain. Siapa saja yang mengambil teladan dari apa yang mereka perselisihkan, maka di sisi-Ku berarti mengikuti petunjuk.

Hadits ini maudhu' dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Batthah dalam kitab al-Ibanah, juga oleh Khatib Nizamul Mulk dalam kitab al Amali II/I3, Ibnu Asakir I/303, dari sanad Naim bin Hamad dari Abdur Rahim bin Zaid al-Ami.

Sanad hadits tersebut maudhu'. Naim bin Hamad itu dha'if. Al-Hafizh berkata, "Ia banyak melakukan kesalahan, sedangkan Abdur Rahim al-Ami adalah pendusta."

Ibnul Jauzi dalam kitab al-Ilal berkata, "Riwayat tersebut tidak sahih sebab Naim itu tercela. Sedangkan Abdur Rahim oleh Ibnu Muin dinyatakan sebagai pendusta."

60) Derajat Hadits : Maudhu'

Apa pun yang diperoleh dari Kitabullah, yang utama adalah pengamalannya. Tidak ada alasan bagi kalian untuk meninggalkannya. Bila tidak ada dalam Kitabullah, sunnahku berlaku. Bila dalam sunnahku tidak ada, hendaknya kalian mengamalkan apa yang dikatakan para sahabatku. Sesungguhnya sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang di langit. Yang mana saja dari mereka kalian ikuti, pasti kalian akan terbimbing. Dan perselisihan antara sahabat-sahabatku adalah rahmat bagi kalian.

59) Derajat Hadits : Maudhu'

Sahabat-sahabatku bagaikan bintang-bintang. Yang mana saja kalian jadikan panutan, kalian akan mendapat petunjuk.

Hadits ini maudhu' dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam kitab Jami'ul 'Ilmi II/91, dan oleh Ibnu Hazem dalam kitab al-Ahkam VI/82, dari sanad Salam bin Sulaim.

Ibnu Abdil Bar berkata, "Sanad ini tidak dapat dijadikan hujjah. Al-Harits bin Ghushain itu majhul." Sedang Ibnu Hazem berkata, "Riwayat ini gugur, sebab Abu Sufyan sangat lemah. Al-Harits bin Ghushain itu adalah Abu Wahab ats-Tsaqafi. Dan Salam bin Su'aim telah meriwayatkan hadits-hadits maudhu'. Inilah salah satunya."

Semua peneliti hadits menyatakan Salam bin Sulaim atau Ibnu Sulaiman itu dhai'f. Pernyataan itu telah menjadi kesepakatan para pakar hadits. Oleh Ibnu Hibban ia dinyatakan sebagai pendusta, karena telah meriwayatkan hadits maudhu'.

58) Derajat Hadits : Maudhu'

Perselisihan di antara umatku adalah rahmat.

57) Derajat Hadits : Maudhu'

Kalau saja bukan karena wanita, pastilah Allah akan disembah dengan sungguh-sungguh.

56) Derajat Hadits : Maudhu'

Berjalan cepat menghilangkan kecermelangan seorang mukmin.

55) Derajat Hadits : Dha'if

Hendaklah kalian berpegang pada agama wanita-wanita tua.

53) Derajat Hadits : Maudhu'

Bila di antara kalian ada yang mendapati binatang tunggangannya membandel, atau keburukan akhlak istrinya atau salah seorang dari anggota keluarganya, maka berazanlah pada telinga mereka.

52) Derajat Hadits : Dha'if

Sesungguhnya Allah menyukai hamba-Nya yang mukmin, fakir tidak suka meminta-minta, dan banyak anaknya.

Ini hadits dha'if. Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah II/529 dan al-Uqaili dalam ash-Shafa halaman 361 bahwa dalam sanadnya terdapat al-Qasim bin Mahran al-Uqaili. Ia mengatakan, "Terbukti tidak benar bahwa hadits itu diriwayatkan dari Imran bin Hushain tetapi dari Musa bin Ubaidah, yakni orang yang tidak diterima riwayatnya atau matruk."

Menurut saya, hadits tersebut mempunyai empat cacat. Dua diantaranya dinyatakan al-Uqaili yakni tentang terputusnya sanad dan lemahnya Ibnu Ubaidah. Adapun yang ketiga yaitu majhulnya Ibnu Mahran seperti dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam at-Taqrib. Dan keempat, Hamad bin Isa yaitu al-Wasithi juga lemah, seperti yang dinyatakan Ibnu Hajar.

51) Derajat Hadits : Dha'if

Barangsiapa menziarahi makam kedua orang tuanya pada setiap Jum' at kemudian pada makamnya membaca surat Yasin, akan diampuni dosanya sesuai jumlah ayat atau huruf yang dibacanya.

50) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah seorang dari mereka pada setiap hari Jum 'at, terampuni dosanya dan dicatat sebagai orang yang berbakti.

Ini hadits maudhu' sebab dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Nu'man dan Yahya bin al-Ala. Jumhur ulama hadits sepakat bahwa keduanya adalah pendusta dan pemalsu hadits. Ini pernyataan Imam Ahmad, Waqi, Ibnu Adi, dan lain-lain.

49) Derajat Hadits : Maudhu'

Anak adalah rahasia ayahnya.

Hadits tersebut tidak ada sumbernya. Demikianlah pernyataan as-Sakhawi, as-Suyuthi, az-Zarkasyi serta ash-Shaghawi dalam deretan kitabnya al-Ahadits al-Maudhu'ah.

Kemudian, dari segi maknanya tidaklah merupakan keharusan. Sebab, di kalangan para nabi sendiri, ada yang ayahnya musyrik, seperti Azar ayah Nabi Ibrahim. Juga ada yang anaknya musyrik, seperti Kan'an anak Nabi Nuh a.s.

48) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa menunaikan ibadah haji kemudian menziarahi kuburku sepeninggalku, ia seperti menziarahiku ketika aku masih hidup.

47) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa menziarahiku dan menziarahi kakekku Ibrahim dalam satu tahun, ia masuk surga.

Ini hadits maudhu'. Az-Zarkasyi dalam kitab al-La'ali al-Mantsurah menyatakan, "Hadits tersebut maudhu' dan tak seorang pun pakar hadits yang meriwayatkannya." Bahkan oleh Ibnu Taimiyah dan Imam Nawawi dinyatakan maudhu' dan tak ada sumbernya.

46) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa menunaikan ibadah haji tetapi tidak menziarahi kuburku berarti ia telah menjauhiku.

Ini hadits maudhu'. Hal ini telah ditegaskan oleh adz-Dzahabi dalam kitab al-Mizan III/237, juga oleh ash-Shaghani dalam kitab al-Ahadits al-Maudhu'iyyah halaman 46.

Yang menunjukkan bahwa riwayat tersebut maudhu' adalah bahwa menjauhi dan menyimpang dari ajaran Rasulullah saw. adalah dosa besar. Kalau tidak, termasuk kafir. Dengan demikian, berarti makna hadits tersebut siapa saja yang dengan sengaja meninggalkan atau tidak pergi berziarah ke makam Rasulullah saw., berarti telah melakukan perbuatan dosa besar. Dengan demikian, berarti pula ziarah adalah wajib seperti ibadah haji. Barangkali tidak seorang pun kaum mukmin yang berpendapat demikian. Sekalipun ziarah ke makam Rasulullah suatu amalan yang baik, hal itu tidak lebih dari amalan yang mustahab. Inilah pendapat jumhur ulama. Lalu bagaimana mungkin orang yang meninggalkannya dinyatakan sebagai orang yang menyimpang dan menjauhi Rasulullah saw.?

45) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa berhadats dan tidak berwudhu, ia telah berpaling dan menjauhi-Ku. Barangsiapa berwudhu tetapi tidak shalat, ia telah berpaling dan menjauhi-Ku. Barangsiapa shalat tetapi tidak mendoa'kan aku (seusai shalat), ia telah berpaling dan menjauhi-Ku. Dan barangsiapa yang mendo'akan aku tetapi Aku tidak menjawabnya, berarti Aku telah menjauhinya. Dan Aku bukan pengatur yang suka menjauhi.

44) Derajat Hadits : Maudhu'

Bulan Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, tidak diangkat ke hadirat Allah kecuali oleh zakat fitrah.

Ini hadits dha'if. Ibnul Tauzi meriwayatkannya dalam deretan hadits-hadits yang tidak jelas, seraya mengatakan bahwa dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Ubaid al-Bashri, yang tidak dikenal di kalangan para pakar hadits.

Hadits tersebut sangat sering saya dengar terutama pada bulan Ramadhan yang digunakan sebagai materi kajian dalam majelis taklim atau pengajian. Inilah salah satu bentuk kebiasaan menyederhanakan masalah yang saya khawatirkan. Padahal, mestinya setiap insan terutama para ustadz berhati-hati mengutarakannya. Kalau kita anggap hadits tersebut sahih, berarti puasa Ramadhan tergantung pada zakat fitrah. Siapa saja yang mengeluarkan zakat fitrah diterima puasanya,sedangkan yang tidak menunaikan zakat fitrah puasanya tidak diterima.

Saya kira tidak satu pun dari ulama shalihin yang berpendapat demikian. Wallahu a'lam.

43) Derajat Hadits : Dha'if

Para nabi adalah pembimbing, fuqaha adalah pemimpin, sedangkan majelis mereka adalah penambah kebajikan.

42) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa mendapat harta dari tempat yang tidak halal, Allah akan menghilangkan harta tersebut pada jalan kebinasaan.

41) Derajat Hadits : Maudhu'

Hendaknya kalian makan labu karena labu dapat menambah kecerdasan. Hendaknya kalian'makan adas (sebangsa kacang-kacangan, penj.) sebab adas telah disucikan melalui ucapan tujuh puluh orang nabi.

40) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa tidur sesudah ashar kemudian akalnya terganggu, maka jangan menyalahkan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

39) Derajat Hadits : Dha'if

Barangsiapa berlaku ikhlas kepada Allah selama empat puluh hari, akan muncullah sumber kebijakan (hikmah) pada lisannya.

Ini hadits dha'if. Abu Naim meriwayatkannya dalam kitab al-Haliyyah V/189 dari sanad Muhammad bin Isma', dari Abu Khalid Yazid al-Wasithi, dari Hajjaj, dari Makhul.

Ibnul Jauzi meriwayatkannya dalam deretan hadits maudhu' dengan mengatakan, "Hadits ini tidak sahih. Yazid al-Wasithi banyak melakukan kesalahan, sedangkan Hajjaj majruh (tercela) dan Muhammad bin Ismail adalah majhul (asing). Tidak benar bila ada yang mengatakan bahwa Makhul telah mendengar dari Abu Ayyub al-Anshari r.a."

As-Suyuthi dalam kitab al-La'ali II/176 mengutip ucapan al-Iraqi yang menyatakannya sebagai hadits dha'if.

38) Derajat Hadits : Dha'if

Akan datang suatu masa yang waktu itu manusia seperti serigala. Siapa yang tidak menjadikan dirinya sebagai serigala, dia akan dimakan serigala.

Hadits ini sangat lemah. Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam deretan hadits-hadits maudhu'.

Ad-Daru Quthni berkata, "Sanadnya tunggal, yaitu dari Ziyad bin Abi Ziyad yang oleh pakar hadits ditinggalkan riwayatnya."

37) Derajat Hadits : Maudhu'

Mencintai tanah air sebagian dari iman.

Dinyatakan oleh ash-Shaghani bahwa hadits ini maudhu'. Di samping itu, maknanya tidak benar, sebab mencintai tanah air sama dengan mencintai jiwa raga dan harta benda. Yang demikian itu hal naluriah bagi setiap insan dan tidak perlu diagung-agungkan, apalagi dikatakan termasuk sebagian iman. Kita dapat melihat bahwa rasa cinta tanah air ini tidak ada bedanya antara orang mukmin dengan orang kafir.

37) Derajat Hadits : Maudhu'

Siapa yang adzan, dialah yang qamat.

35) Derajat Hadits : Dha'if

Berhati-hatilah terhadap dunia, karena dunia lebih memperdaya daripada Harut dan Marut.

Hadits ini munkar dan tidak ada sumbernya. Al-Iraqi menyatakan dalam kitab Takhrijul-Ihya III/177 bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya yang disandarkan kepada Abud Darda secara mursal (sanad yang disandarkan kepada sahabat atau tabiin, penj.).

Adz-Dzahabi menyatakan, "Tidak diketahui siapa Abud Darda." Bahwa hadits itu munkar dan tidak bersumber telah ditegaskan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Lisanul Mizan VI/375. Bahkan siapa yang menganggap Abud Darda itu sahabat yang masyhur, berarti salah. Jadi, yang menjadi masalah majhulnya (asingnya) Abud Darda'.

34) Derajat Hadits : Maudhu'

Dunia adalah istri kedua (saingan) akhirat.

Hadits ini tidak ada sumbernya dari Rasulullah saw.. Ini ditegaskan' dalam kitab Kasyful Khafa dan lain-lain. Konon termasuk ucapan-ucapan yang dinisbatkan kepada Nabi Isa a.s.

33) Derajat Hadits : Maudhu'

Dunia itu haram bagi ahli akhirat dan akhirat itu haram bagi ahli dunia, sedangkan dunia dan akhirat adalah haram bagi ahlullah.

Ini salah satu dari sederetan hadits maudhu'. Dalam sanadnya terdapat Jibillah bin Sulaiman yang oleh adz-Dzahabi dinyatakan dalam deretan perawi tidak tsiqah (tidak terpercaya).

Menurut saya, penyebar hadits ini bukan saja tidak kuat, tetapi jelas seorang pendusta ulung. Yang pasti, riwayat ini batil. Seorang mukmin tidak akan ragu terhadap pernyataan ini, sebab bagaimana mungkin Rasulullah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan bagi orang-orang mukmin?

Tampaknya pemalsu hadits ini berasal dari kalangan sufi yang dungu, yang berkeinginan menabur benih akidah sufiyah batil. Di antaranya, yaitu mengharamkan sesuatu yang te1ah dihalalkan Allah dengan dalih mendidik jiwa, seolah-olah apa yang didatangkan oleh syariat tidak cukup atau kurang sempurna. Sehingga mereka membuat peraturan untuk menyempurnakan ketetapan Ilahi.

32) Derajat Hadits : Maudhu'

Dunia adalah langkah seorang mukmin.

Hadits tersebut tidak ada sumber aslinya. Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa I/196 juga mengatakan bahwa hadits tersebut tidak diketahui sumbernya, tidak dari Rasulullah saw., tidak dari salafussalih, juga tidak dari para imam.

Hadits tersebut oleh Imam as-Suyuthi diriwayatkan dalam deretan hadits-hadits maudhu' dengan nomor 1187.

31) Derajat Hadits : Maudhu'

Kebaikan itu ada pada diriku dan umatku sampai hari kiamat.

Hadits tersebut tidak ada sumbernya. Dinyatakan dalam kitab al-Maqashid bahwa Ibnu Hajar mengatakan, "Aku tidak mengetahui sumber aslinya."

30) Derajat Hadits : Maudhu'

Umatku yang terbaik ialah mereka yang berwatak keras (tegas) yang bila mereka marah segera sadar.

Ini hadits batil. Al-Uqaili meriwayatkannya dalam kitab Kumpulan Hadits-hadits Dha'if, halaman 217, kemudian menyatakan, "Sanadnya dari Abdullah bin Qunbur dan dia ini tidak suka meneliti sanad."

Kemudian al-Uzdi mengatakan, "Riwayat Abdullah bin Qunbur tersebut tidak diterima jumhur pakar hadits. Bahkan adz-Dzahabi menyatakan bahwa riwayatnya batil dan dibenarkan oleh Ibnu Hajar.

29) Derajat Hadits : Maudhu'

Sikap tegas itu tidak akan ada kecuali pada umatku yang saleh dan yang paling baik, kemudian akan sirna.

Hadits ini maudhu' dan diriwayatkan oleh Bisyran dalam kitab al-Amali dengan sanad dari Bisyr bin Husain.

Saya katakan, Bisyr ini pendusta. Bahkan oleh ad-Daru Qhuthni dinyatakan tertolak riwayatnya. Kemudian Abu Hatim mengatakan bahwa Bisyr ini telah berdusta pada Zubair.

28) Derajat Hadits : Maudhu'

Sikap tegas itu meliputi para pengemban Al-Qur'an karena keluhuran Al-Qur'an dalam hati mereka.

27) Derajat Hadits : Maudhu'

Sikap tegas (keras) menjadi ciri bagi umatku yang baik-baik.

Hadits tersebut dha'if. Ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani, III/118 dan Ibnu 'Adi I/163, semuanya dari Salam ath-Thawil.

Al-Mukhallish dalam kitab al-Fawa'id al-Muntaqat mengatakan bahwa Imam al-Baghawi berkata, "Hadits ini munkar dan Salam ath-Thawil itu lemah sekali." Bahkan, diutarakan al-Manawi dalam kitab al-Faidh bahwa Salam ath-Thawil dan Fadhl bin Athiyyah ditinggalkan riwayatnya.

Menurut saya; sekalipun Fadhl bin Athiyyah dinyatakan dha'if, tidaklah seperti yang telah dituduh oleh jumhur pakar hadits bahwa dia pendusta dan pemalsu hadits.

26) Derajat Hadits : Dha'if

Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata, 'Wahai Tuhanku, aku memohon ampunan-Mu demi Muhammad. Maka Allah berfirman, 'Wahai Adam bagaimana engkau mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya?' Adam menjawab, 'Wahai Tuhanku. Tatkala Engkau menciptakanku dengan kekuasaan-Mu dan Engkau meniupkan ruh padaku, maka aku mengangkat kepalaku, dan aku melihat tiang Arasy bertulis: Tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, maka aku tahu Engkau tidak merangkaikan kepada nama-Mu kecuali makhluk yang paling Engkau cintai.' Allah berfirman, 'Engkau benar, wahai Adam. Sesungguhnya dia (Muhammad) makhluk yang paling Aku cintai. Mohonlah demi dia, maka Aku mengampunimu. Dan kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu.

Telah dinyatakan oleh Ibnu Hibban bahwa dalam sanad hadits di atas terdapat nama Abdullah bin Muslim bin Rasyad. Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits sebab ia pernah terbukti memalsu hadits dari Laits, Malik, dan Ibnu Luhay'ah.

Ringkasnya, hadits tersebut tidak bersumber pada hadits-hadits marfu' dan sahih dari Rasulullah saw.. Karena itu, tidaklah berlebihan bila divonis sebagai hadits batil oleh para pakar hadits, seperti adz-Dzahabi dan al-Asqalani.

25) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa keluar dari rumahnya menuju masjid untuk melakukan shalat, kemudian ia berdoa, 'Wahai Tuhanku, aku bermohon pada-Mu atas hak orang-orang yang bermohon kepada-Mu; dan aku bermohon kepada-Mu atas hak perjalanan ini, karena aku tidak berjalan untuk suatu kekejian dan tidak pula karena kesombongan', maka Allah akan menghadapinya dengan wajah-Nya dan seribu malaikat akan memohon ampunan untuknya.

Hadits ini dha'if. Ia diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya I/261, Imam Ahmad III/21, Baghawi dalam hadits Ali bin Ja'd IX /93, dan Ibnu Sunni (hadits nomor 83), dari sanad Fudhail bin Marzuq.

Lemahnya sanad riwayat tersebut dari dua hal:

Fudhail bin Marzuq dinyatakan kuat oleh sekelompok ulama, tetapi sekelompok lain menganggapnya lemah. Dan tidak benar tuduhan orang bahwa yang menyatakan Fudhail lemah hanya Abu Hatim saja, sebab masih banyak lagi sederetan pakar hadits yang menganggapnya lemah. Ketika ditanya tentang Fudhail apakah dapat dijadikan hujjah, Nasa'i menjawab, "Tidak, ia lemah." Al-Hakim juga mengatakan, "Fudha'il tidak memenuhi syarat kesahihan." Selain mereka adalah Ibnu Hibban yang dalam menyatakan perawi-perawi kuat mengatakan, "Fudhail banyak melakukan kesalahan dalam meriwayatkan." Ringkasnya, kecaman terhadap Fudhail lebih didahulukan daripada yang menguatkannya.
Di samping itu, Fudhail meriwayatkannya dari Athiyyah al-Aufi yang juga dinyatakan lemah oleh pakar hadits. Demikianlah yang diungkapkan oleh para huffazh.

Dengan demikian, seperti yang masyhur dalam ilmu Mushthalah Hadits, jarh (kecaman) lebih didahulukan (diutamakan) ketimbang ta'dil (pengakuan baik). Di samping itu, tentang penguatan dha'ifnya Ibnu Shalah ini datang dari banyak ulama tsiqah (dapat dipercaya), seperti Ibnu Adi dan lain-lainnya. Bahkan Ibnu Yunus mengatakan, "Banyak diriwayatkan darinya hadits-hadits munkar." Daru Quthni mengatakan,"Ia (Ibnu Shalah) itu lemah dalam meriwayatkan hadits."

24) Derajat Hadits : Dha'if

Allah yang menghidupkan dan mematikan sedang Ia Maha Hidup, tidak akan mati. Ampunilah ibuku Fatimah binti Asad, bimbinglah hujjahnya, luaskanlah tempat masuknya, atas hak Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku karena Engkau-lah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

23) Derajat Hadits : Dha'if

Bertawasullah dengan kedudukan dan jabatanku, karena kedudukanku di sisi Allah sangat agung.

22) Derajat Hadits : Maudhu'

Cukuplah permohonanku (pada-Nya) dengan pengetahuan-Nya tentang keadaanku.

Hadits tersebut tidak mempunyai sumber yang marfu'. Sebagian ulama telah menyatakannya sebagai ucapan atau doa Nabi Ibrahim a.s.. Ini termasuk kisah-kisah Israiliat. Hal itu disebutkan oleh al-Baghawi dalam tafsirnya tentang surat al-Anbiya, sambil menyatakannya sebagai riwayat yang dha'if.

Kemudian saya dapatkan riwayat tadi dalam kitab Tanzih asy-Syariah al-Marfuah 'and-Akhbarisy-Syani'ah al-Maudhu' I/250, karangan Ibnul Iraqi. Ia mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah berkata, "Hadits tersebut adalah maudhu'."

21) Derajat Hadits : Madhu'

Hiasilah hidangan makanan kalian dengan sayur-mayur karena itu merupakan pengusir setan sambal mengucap bismillah.

Hadits ini maudhu'. Ia diriwayatkan oleh Abdur Rahman bin Nashr ad-Dimasqi dalam kitab al-Fawa'id II/229 dan Abu Naim dalam kitab Akhbar al-Asbahan II/216 dan sebagian dari sanad Ala bin Maslamah.

Menurut saya, hadits ini maudhu' karena telah dinyatakan oleh pakar hadits, di antaranya Ibnu Hibban dan adz-Dzahabi bahwasanya Ala adalah pemalsu dan tukang mencampur-aduk hadits. Bahkan Ibnu Hibban menambahkan bahwa tidaklah dapat dianggap sahih jika riwayat tersebut dijadikan hujjah. Oleh Ibnul Jauzi riwayat tersebut ditempatkan dalam deretan hadits-hadits maudhu'. Beliau mengatakan, "Riwayat ini tidak ada sumbernya dalam hadits sahih dan Ala sendiri termasuk deretan pemalsu hadits."

20) Derajat Hadits : Maudhu'

Hiasilah majelis istri-istri kalian dengan alat pemintal (alat untuk membuat kapas menjadi benang).

19) Derajat Hadits : Maudhu'

Jadikanlah jamban (kakus) sebagai tempat membuang hajat karena yang demikian dapat melalaikan jin dari menggoda anak-anak kalian.

Hadits di atas maudhu'. Ia diriwayatkan oleh Ibnu Adi dalam kitab al-Kamil II/288 dan Al Khatib V/279, yaitu dari sanad Muhammad bin Ziyad dari Ibnu Abbas r.a.

Ibnu Hajar mengatakan bahwa dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Ziyad al-Yasykari yang telah dinyatakan pendusta.

18) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa berbuat dosa sambil tertawa, pastilah ia masuk neraka sambil menangis.

17) Derajat Hadits : Maudhu'

Ada dua golongan dari umatku, yang bila keduanya baik atau saleh, maka baiklah semua manusianya. Yaitu 'umara (penguasa) dan fuqaha (ulama).

16) Derajat Hadits : Maudhu'

Negeri Syam adalah tempat busur panah-Ku. Siapa saja yang ingin berlaku jahat padanya, Aku akan memanahnya dengan anak panah tersebut.

15) Derajat Hadits : Dha'if

Hati-hatilah (jauhilah) olehmu hijaunya kotoran ternak." Beliau ditanya, 'Apa makna hijaunya kotoran ternak?' Rasul menjawab, 'Yaitu wanita cantik yang tumbuh di lingkungan buruk.

14) Derajat Hadits : Dha'if

Penduduk Syam adalah cambuk Allah di bumi-Nya. Allah akan membalas kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya dengan mereka. Haram bagi kaum munafik untuk mengungguli kaum mukmin dan mereka tidak akan mati kecuali dengan kesedihan dan kesengsaraan.

13) Derajat Hadits : Dha'if

Allah SWT telah mewahyukan kepada dunia, 'Berkhidmatlah kepada siapa yang berkhidmat kepada-Ku, dan sengsarakanlah siapa yang berkhidmat kepadamu (yakni dunia).

12) Derajat Hadits : Maudhu'

Sesungguhnya aku diutus sebagai pengajar.

11) Derajat Hadits : Dha'if

Sesungguhnya Allah suka melihat hamba-Nya yang lelah dalam mencari rizki yang halal.

10) Derajat Hadits : Maudhu'

"Aku adalah kakek bagi setiap orang yang bertakwa."

9) Derajat Hadits : Maudhu'

Beramallah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau mati besok.

8) Derajat Hadits : Dha'if

Dua hal janganlah Anda dekati. Menyekutukan Allah dan mengganggu (merugikan) orang lain.

7) Derajat Hadits : Maudhu'

Hindarilah debu, karena darinyalah timbulnya penyakit asma.

6) Derajat Hadits : Maudhu'

Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu untuk Allah dan ia tidak meninggalkannya kecuali karena Allah kecuali Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya dalam urusan agama serta keduniaannya.

5) Derajat Hadits Maudhu'

Berbincang-bincang dalam masjid itu menggerogoti pahala-pahala seperti binatang ternak memakan rerumputan.

4) Derajat Hadits : Maudhu'

Himmah (keteguhan niat) laki-laki dapat meluluhkan (menyingkirkan) gunung-gunung.

3) Derajat Hadits : Maudhu'

Barangsiapa shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka ia tidak menambah sesuatu pun dari Allah SWT kecuali kejauhan.

2) Derajat Hadits : Dhai'f

Agama adalah akal. Siapa yang tidak memiliki agama, tidak ada akal baginya.

1) Derajat Hadits : Maudhu'

Tulisan Arab yang biasa dipakai dalam kegiatan sehari-hari seperti Tulisan Arab Assalamu'alaikum dan Bismillah.

Bismillahirrahmanirrahim:
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah wabarakatuh:
وَعَلَيْكُمْ لسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wabarakatuh:
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Aamiin ya rabbal ‘alamin:
آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن



Takbir:
الله أَكْبَر



Takbir lebaran:

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ila hailallahu wallahu akbar, allahu akbar walillah ilham
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ



Alhamdulillahirabbil ‘alamin:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



>> Ucapan Idul Fitri:

Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa siyamakum, kullu amien wa antum bi khair
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ



Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna minal ‘aidin wal faizin
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين

– Innalillahi wa inna ilaihi raji’un:
إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ



Insya Allah:
إِن شَاء اللَّهُ



Astaghfirullah:
اسْتَغْفِرِ اللهَ



Ayat Al Quran Perintah untuk berpuasa di bulan ramadhan (Al Baqarah 183)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

[2:183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasasebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa



Marhaban ya ramadhan:
مَرْحَبًا يَا رَمَضَانَ



SAW (Shallallahu ‘alaihi wa salam):
صلى الله عليه وسلم



Halal:
حَلاَلً



Haram:
حَرَمً



Kalimat tawakal: laa haula wa laa quwwata illa billah
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّتَ اِلاَّبِاللّهِ



Masya Allah:
مَاشَآءَاللّهُ



Laa ila ha illallah:
لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله



Asyhadu Al La Ilaha Illallah :
أَشهَدُ أَن لا اِلهَ إلا الله



Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah :
أَشهَدُ أنّ مُحَمّداً رَسُولُ الله



Subhanallah:
سُبْحَانَ اللّهُ



Allah subhanahu wa ta'ala:

الله سبحانه و تعالى



Taqaballahu minna wa minkum:
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ



Taqaball ya karim:
تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ



Wa iyyakum:
وَ اِيَّكُمْ



Kalimat ta’awudz :

A’udzubillahi minas syaitonirrajim
أَعُوْذُ بِا للّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ



Doa untuk pengantin:

Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a baynakuma fi khair
بَارَكَ اللّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرِ



Kayfa haluk? (Apa kabar?)
كَيْفَ حَالُكَ؟



Alhamdulillah bi khair
الْحَمْدُ لِلّهِ بِخَيْر



Afwan jiddan
آفْوً جِدًّا



Jazakumullah:
جَزَاكُمُ اللّهُ



Jazakallah (untuk laki-laki):
جَزَاكَ اللّهُ



Jazakillah (untuk perempuan):
جَزَاكِ اللّهُ



Syukron Katsiron :
شكرا كثيرا



La Tahzan Innallaha Ma'ana* :
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا



Innallaha Ma'ashabirin** :
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ



*Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah ada bersama kita
Sabda Rasulullah SAW yang menenteramkan hati sayyidina Abu Bakar ketika bersembunyi di gua Tsur
**Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar

Jika ada request atau yang kurang dalam hal tulisan arab yang sering dipakai sehari-hari tolong komentarnya

Tulisan Arab Sehari-hari - Tulisan Arab Assalamu'alaikum, Bismillah